13 Sep 2010

Orang Miskin : Kami Ingin Sekolah


RONALD KABAK
BEBERAPA saat lalu waktu saya ikut Diklatsu Bela Negara di Binong Kabupaten subang saya diberi sebuah kado dari seorang pelatih,Diklatsu Bella Negara, menurutku itu kado terspesial yang saya terima. Entah mengapa, kado itu sekarang membuka wawasan dan pemahaman saya tentang pendidikan di Kabupaten saya, yaitu KabupatenYahukimo. Dan bagiku kado itu adalah ajakan untuk saya agar peduli dan menangisi nasib pendidikan di Kabupaten saya.

Mau tau apa kadonya, kadonya adalah sebuah buku seperti judul diatas “Orang Miskin Dilaranga Sekolah.” Karangan penulis muda Eko Prasetyo. Yang di terbitkan oleh Insist Press beberapa saat lalu.

Membaca buku tersebut betul-betul membuka wawasan maupun pemahaman saya tentang kebobrokan Pendidikan di Kabupaten Yahukimo yang bagaimana pendidikan selalu dijadikan sebagai berbagai ajang, mulai dari ajang bisnis, ajang politk, bahkan ajang untuk bersandar diri.

Wajah pendidikan di Kabupaten yahukimo betul-betul suram, dimana biaya pendidikan menmpuk setiap tahun naik, adapun berbagai biaya itu seperti biayai pramuka, biaya musik, musik daftar ulang, uang buku serta uang kegiatan wisata.

Kemana 20% dana APBN itu, kemana dana BOS, kemana dana pendidikan yang lainnya. Sekarang pendidikan merupakan jalur yang sangat alternative untuk mendapatkan pemasukan, mendapatkan kedudukan, mendapatkan jabatan. Disini di umpamakan pendidikan seperti barang jual beli yang sekali-kali dapat membuat orang kaya mendadak.

Setiap tahun ajaran baru, dari bulan Juli-Agustus, jangan heran kalau di tayangkan di berbagai media masa banyak keluarga tidak mampu (orang miskin) yang selalu gantung diri, bunuh diri, dan lain sebagainnya di jakarta.

Tidak ingat persis itu tanggal berapa, beberaa saat lalu saya menyaksikan di siaran TV Metro dimana seorang bapak yang kerja hari-harinya sebagai penarik becak, rela menggantung diri di pohon dibelakang gubuknya, lantara apa? Karena tidak mampu membiayai ketiga anaknya yang sedang menempuh pendidikan.

Lantaran begini terus, apa ingin pendidikan di Indonesia ini menghasilnya perampok dan penjahat yang membunuh setiap orang miskin yang ada. Eko Prasteyo memakai istilah “sapi perah” untuk mereka yang suka menguras dan menguras biaya sekolah.

Janji manis Presiden, Gubernur, entah itu Bupati, disaat masa kampanye hanyalah omong kosong belaka. Omongan yang dibuat-buat supaya dirinya dapat menikamati berbagai kemewahan fasilitas sebuah istana. Janji manis itu setelah terpilih jadi Presiden, Gubarnur, dan Bupati, hanyalah jadi madu pahit yang siap dibuang.

Beberapa saat lalu ketika saya pulang dari Subang sesudah ikut Diklatsu, sempat BUS yang kami tumpangi di jalan Tol. Saya dengan terkesima (maklum orang kampong) melihat-lihat keindahan kota Jakarta. Sempat juga pemandangan di beberapa kampung yang sangat menarik.

Supir Truk, alangkah kagetnya saya melihat beberapa spanduk terpasang di jalan-jalan. Saya sempat tanya ke teman saya, yang namanya TAUFIQ RAHMAD “apa sekarang mendekati pilkada” jawabnya dengan lantang, yah betul.”
Beberapa spanduk yang terpasang dengan jelas menulis Bahwa biaya pendidikan akan digratiskan secara menyeluruh mulai dari SD, SMP.SMA, serta Perguruan Tinggi. Bagi saya membaca ini merupakan janji-janji omong kosong yang selalu ditebarkan oleh siapa saja. Tapi yang mengejutkan juga disitu terpampang tulisan, bagi orang miskin biaya pengobatan akan di gratiskan,

Sedikit berpikir dari dalam hari terkecil saya bertanya-tanya, aa bisa budaya ini bisa hilang dari Indonesia. Sebelumnya maafkan saya, kalau saya katakna ini sebagai budaya bangsa ini. Suatu kebiaasaan atau budaya yang telah lama tumbuh berkembang, tidak mungkin akan berindah atau ditanggalkan begitu saja.

Saya setujua kalau spanduk atau tulisan itu diatas baliho hanya mengatakan kalau mereka akan meringankan biaya sekolah, bukannya menggratiskan biaya sekolah. Meringankan biaya sekolah aja belum, mana mungkin langung mau gratis. Inikan argument yang sangat lucu, dan bagi kalangan banyak yang baca akan teratawa karena menutut mereka memalukan.

Itu dari penulisan itu ingin mengukapkan kepada public, agar orang miskin tidak dijadikan sebagai lahan untuk bisnis. Sedangkan mereka sendiri selalu terlantar dan terhina-hina dimana-manapun mereka berada. Semoga suara Pak Eko adalah suara rakyat miskin.

By: ronald kabak

Pendidikan di Kabupaten Yahukimo Wilayah (Tiga) Memprihatinkan


Pendidikan merupakan salah satu kunci penanggulangan kemiskinan. Baik dalam jangka menengah atau pun dalam jangka panjang. Namun, masih banyak masyarakat miskin yang memiliki askes terbatas dalam memperoleh pendidikan yang bermutu, dan yang lebih memprihatinkan mereka sama sekali tidak mendapatkan pendidikan.

Hal ini juga dapat disebabkan antara lain karena mahalnya biaya pendidikan, tidak adanya perhatian dari Pemerintah Pusat atau pun Pemerintah Daerah terhadap saudara-saudara kita yang tinggal di daerah Pedalaman Papua. Khususnya Kabupaten Yahukimo distrik Anggruk dan distrik Pasikni.

Apakah hal ini disebabkan karena sulitnya sarana transportasi yang menghubungkan daerah Kabupaten dengan daerah di distrik-distrik yang ada di wilayah Tiga Kabupaten Yahukimo tersebut? Ataukah memang tidak ada guru-guru yang mau ditempatkan di wilayah Anggruk atau pun daerah terpencil untuk mau mengajarkan masyarakat miskin agar mengenal ilmu pendidikan?

Atau juga tidak adanya perhatian Pemerintah Yahukimo terhadap tambahan tunjangan wilayah atau tambahan lainnya kepada guru-guru yang telah mengajar dan mengabdi di daerah Anggruk?

"Bagaimana para guru-guru dapat melakukan pelayanan pendidikan di wilayah angruk Kabupaten Yahukimo kalau kebutuhan hidup sehari-hari sudah susah dan tidak terpenuhi akibat mahalnya kebutuhan hidup di wilayah tersebut sehingga hal ini sangat berdampak terhadap segala akses".

Pernyataan tersebut dilontarkan Ibu Kesia Helembo. Anggota DPRD Kabupaten Yahukimo yang membidangi pendidikan setelah melakukan kunjungan ke mahasiswa Yahukimo asal wilayah tiga di Jakarta.

Dia menilai kemiskinan dan pengangguran di tengah masyarakat Yahukimo di Anggruk dan Pasikni tidak pernah dipermasalahkan. Seolah-olah masyarakat telah mendapatkan pelayanan pendidikan yang memadai. Tapi, kini realitasnya sungguh terbalik.

Saat ini mereka tidak mendapatkan akses pendidikan. Berbahasa Indonesia pun tidak mengerti. Apalagi mengenal dan tahu membaca dan berhitung. Hal ini pun mengakibatkan mundurnya dunia pendidikan di kabupaten tersebut. Memang angka kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten ini tak kalah membuat miris orang-orang yang peduli.

Mana penyebab dan mana akibat? Ibarat lingkaran setan keterpurukan ekonomi dan pendidikan memang sebuah tantangan besar yang saling mempengaruhi. Buruknya perangkat keras pendidikan (ruang belajar dan sekolah, buku, pustaka, dan laboratorium yang kurang), diperparah lagi oleh buruknya kualitas perangkat lunak (kurikulum compang-camping dan gonta-ganti, manajemen pendidikan sekolah yang belum profesional) serta masih kurangnya jumlah dan kualitas guru.

Keterpurukan ini berlangsung di tengah-tengah mengalirnya dana yang sangat besar di kabupaten tersebut. Dengan demikian dana besar tidak menjamin peningkatan mutu pendidikan Karena peningkatan mutu pendidikan hanya merupakan jargon semata bagi pemda dan elit pemerintahan yang sibuk ber-KKN ria.

Karena itu, tutur masyarakat seharusnya tidak perlu berharap banyak pada aparatur pemerintah untuk setia menjadi pelayan mereka. Sudah terlalu banyak bukti bahwa jajaran birokrasi hanya menggunakan masalah rakyat untuk kepentingannya. Bukan untuk mengatasi masalah rakyat itu sendiri.

Dan rakyat tidak perlu khawatir bahwa mereka akan menderita tanpa perhatian pemerintah. Toh, selama ini mereka sudah hidup termasuk hidup menderita. Tanpa pelayanan yang berarti dari pemerintah.

Pemerintah memang telah mengganggarkan dana pendidikan sebanyak 20 persen dari APBN. Tapi, ketika dunia pendidikan telah memasuki era neoliberal pendidikan dana sebanyak itu menurut sebagian kalangan masih terasa kurang. Kita memang patut sadar bahwa masih banyak sektor-sektor publik lain yang harus diperhatikan oleh Pemerintah ketika membuat kebijakan-kebijakan liberalisasi.

Meskipun demikian diakuinya kebijakan yang dapat mendorong majunya dunia pendidikan harus diperioritaskan oleh pemerintah. Khususnya pada persoalan dana, akibatnya, timbullah pendidikan yang mahal dan komersialisasi pendidikan di Negara ini.

Siapa yang bertanggung jawab? Alih-alih membicarakan persoalan pendidikan yang mahal maka siapa pun akan menyalahkan pemerintah di negeri ini. Oleh sebab itu untuk membebaskan masyarakat dari belenggu mahalnya pendidikan saat ini merupakan tanggung jawab pemerintah. Dalam konteks ini masyarakat patut berbangga. Karena pemerintah daerah tidak membebankan uang pendaftaran masuk ke sekolah negeri.

12 Sep 2010

MENGAPA SAYA MEMAKAI ISTILAH "Koteka atau humi"? Dalam Tulisan2 Saya?

FOTO MASYARAKAT ANGGRUK



Selamat membaca, semua anak Papua khususnya mahasiswa atau pelajar asal kabupaten yahukimo di tanah air!!


0. Pengantar

Sudah beberapa kali, kata "koteka" yang saya gunakan dalam tulisan-tulisan saya sudah menjadi seolah-olah kata "sandungan" bagi sebagian saudara2 Yahukimo atau asal distik Anggruk yang di tanah air.

Marilah saya menjelaskan mengapa istilah ini patut dan dianggap layak dipakai:

1. Fakta Sejarah Orang Anggruk pasikni kabupaten Yahukimo Papua

Bahwa semua manusia, termasuk semua orang Yahukimo, pada mulanya adalah telanjang.

Bahwa nenek-moyang orang Anggruk adalah pada mulanya tidak berpakaian dari bahan tali rotan dan koteka, seperti yang Anda dan saya kenakan hari ini.

Bahwa wujud "ketertinggalan" (sebenarnya saya tidak setuju koteka sebagai tanda ketertinggalan) di Papua pada khususnya di kabupaten yahukimo distrik anggruk yang sampai hari ini masih dapat Anda sendiri lihat dan tunjuk dengan jari di abad 21 ini adalah "koteka". Wujud keterbelakangan lain seperti cawat dan daun-daunan telah tiada karena perubahan peradaban. Hanya koteka masih bertahan hidup di abad ke 21 ini.

2. Koteka adalah Logo atau 'stereotype' orang Anggruk sekarang

Bahwa di mana saja di dunia ini, kalau seseorang melihat manusia pribumi berhiaskan bulu burung cendrawasi dan tali rotan, mereka dapat bertanya-tanya apakah dari Afrika atau Amerika Latin, tetapi begitu mereka melihat "koteka", TANPA ragu dan secara pasti, mereka akan bilang, "INI ORANG ANGGRUK/ PASIKNI!" Maka, koteka adalah "logo" atau "stereotype" orang Anggruk kabupaten yahukimo, yang membantu orang di dunia untuk membedakan orang Anggruk dengan orang pribumi lainnya di dunia ini.

Buktinya kita lihat hampir semua demo2 di luar negeri atas nama Papua Barat selalu menggunakan koteka dan sali, yaitu pakaian orang Anggruk yang ada sampai saat ini. Orang suku manapun, selalu mengenakan koteka, karena itulah logo orang Yahukimo saat ini.

Bahwa bendera Bintang Kejora menunjukkan kemegahan negara, Burung Mambruk Meyum simbol negara, tetapi nama ANGGRUK punya simbol, yaitu yang menunjukkan kepada manusia YAHUKIMO adalah "koteka".

Bahwa koteka itu bukan hanya miliki orang ANGGRUK atau HERIAPINI, tetapi semua orang YAHUKIMO

3. Koteka "dalam kacamata rohani" di anggruk kabupaten yahukimo

Sudah lama, kata "koteka" telah dipakai sinonim dengan "bodoh", "ketinggalan jaman", "jijik", "tidak bisa", yaitu untuk mengejek. Nama pakaian ini telah menjadi kata untuk menghina. Kitab Suci mengatakan bahwa mereka yang dipandang "hina" akan diangkat oleh Tuhan dan mereka yang dipandang terkebelakang akan menjadi terdahulu.

Dalam perjuangan ini, bangsa ANGGRUK PASIKNI dulu dianggap, "orang yang tak perlu diperhitungkan dalam politik dunia modern", kanibal, primitif, terbelakang, dll itu sedang bangkit kembali, menunjukkan kepada dunia, atas dasar kebenaran mutlak ilahi, kebenaran sejarah dan kebenaran fakta. Karena itu, tanda "koteka' adalah tanda yang patut dipakai di di kabupaten yahukimo.

4. Symbol Kepolosan dan Kesahajaan

Koteka melambangkan kepolisan jiwa dan hati orang Anggruk. Tidak ada yang tersembunyi di hati orang Yahukimo. Dalam kesederhanaan ada kebahagiaan dan kepuasan, yaitu hidup bersahaja. Itulah lambang kehidupan yang sederhana. Itulah cita-cita perjuangan masyarakat anggruk kabupaten yahukimo, yaitu hidup sebagaimana orang ANGGRUK mau, bukan hidup seperti orang asing mau.

Tetapi kalau sebagian besar masyarakat Anggruk Pasikni atau manusia Yahukimo merasa bahwa kata ini memecah-belah atau merugikan masyarakat, maka secara aklamasi dapat dihapus. Tetapi pertanggungjawaban harus dilakukan kepada para kepala suku yang telah menyetujui pemakaian kata itu dalam setiap tulisan saya.

Semoga berguna bagi kita orang yahukimo semua
Wa norry: (YALIMECK, ANGGRUK, PASIKNI NINAP)

5 Sep 2010



pasikni ahun