13 Sep 2010

Orang Miskin : Kami Ingin Sekolah


RONALD KABAK
BEBERAPA saat lalu waktu saya ikut Diklatsu Bela Negara di Binong Kabupaten subang saya diberi sebuah kado dari seorang pelatih,Diklatsu Bella Negara, menurutku itu kado terspesial yang saya terima. Entah mengapa, kado itu sekarang membuka wawasan dan pemahaman saya tentang pendidikan di Kabupaten saya, yaitu KabupatenYahukimo. Dan bagiku kado itu adalah ajakan untuk saya agar peduli dan menangisi nasib pendidikan di Kabupaten saya.

Mau tau apa kadonya, kadonya adalah sebuah buku seperti judul diatas “Orang Miskin Dilaranga Sekolah.” Karangan penulis muda Eko Prasetyo. Yang di terbitkan oleh Insist Press beberapa saat lalu.

Membaca buku tersebut betul-betul membuka wawasan maupun pemahaman saya tentang kebobrokan Pendidikan di Kabupaten Yahukimo yang bagaimana pendidikan selalu dijadikan sebagai berbagai ajang, mulai dari ajang bisnis, ajang politk, bahkan ajang untuk bersandar diri.

Wajah pendidikan di Kabupaten yahukimo betul-betul suram, dimana biaya pendidikan menmpuk setiap tahun naik, adapun berbagai biaya itu seperti biayai pramuka, biaya musik, musik daftar ulang, uang buku serta uang kegiatan wisata.

Kemana 20% dana APBN itu, kemana dana BOS, kemana dana pendidikan yang lainnya. Sekarang pendidikan merupakan jalur yang sangat alternative untuk mendapatkan pemasukan, mendapatkan kedudukan, mendapatkan jabatan. Disini di umpamakan pendidikan seperti barang jual beli yang sekali-kali dapat membuat orang kaya mendadak.

Setiap tahun ajaran baru, dari bulan Juli-Agustus, jangan heran kalau di tayangkan di berbagai media masa banyak keluarga tidak mampu (orang miskin) yang selalu gantung diri, bunuh diri, dan lain sebagainnya di jakarta.

Tidak ingat persis itu tanggal berapa, beberaa saat lalu saya menyaksikan di siaran TV Metro dimana seorang bapak yang kerja hari-harinya sebagai penarik becak, rela menggantung diri di pohon dibelakang gubuknya, lantara apa? Karena tidak mampu membiayai ketiga anaknya yang sedang menempuh pendidikan.

Lantaran begini terus, apa ingin pendidikan di Indonesia ini menghasilnya perampok dan penjahat yang membunuh setiap orang miskin yang ada. Eko Prasteyo memakai istilah “sapi perah” untuk mereka yang suka menguras dan menguras biaya sekolah.

Janji manis Presiden, Gubernur, entah itu Bupati, disaat masa kampanye hanyalah omong kosong belaka. Omongan yang dibuat-buat supaya dirinya dapat menikamati berbagai kemewahan fasilitas sebuah istana. Janji manis itu setelah terpilih jadi Presiden, Gubarnur, dan Bupati, hanyalah jadi madu pahit yang siap dibuang.

Beberapa saat lalu ketika saya pulang dari Subang sesudah ikut Diklatsu, sempat BUS yang kami tumpangi di jalan Tol. Saya dengan terkesima (maklum orang kampong) melihat-lihat keindahan kota Jakarta. Sempat juga pemandangan di beberapa kampung yang sangat menarik.

Supir Truk, alangkah kagetnya saya melihat beberapa spanduk terpasang di jalan-jalan. Saya sempat tanya ke teman saya, yang namanya TAUFIQ RAHMAD “apa sekarang mendekati pilkada” jawabnya dengan lantang, yah betul.”
Beberapa spanduk yang terpasang dengan jelas menulis Bahwa biaya pendidikan akan digratiskan secara menyeluruh mulai dari SD, SMP.SMA, serta Perguruan Tinggi. Bagi saya membaca ini merupakan janji-janji omong kosong yang selalu ditebarkan oleh siapa saja. Tapi yang mengejutkan juga disitu terpampang tulisan, bagi orang miskin biaya pengobatan akan di gratiskan,

Sedikit berpikir dari dalam hari terkecil saya bertanya-tanya, aa bisa budaya ini bisa hilang dari Indonesia. Sebelumnya maafkan saya, kalau saya katakna ini sebagai budaya bangsa ini. Suatu kebiaasaan atau budaya yang telah lama tumbuh berkembang, tidak mungkin akan berindah atau ditanggalkan begitu saja.

Saya setujua kalau spanduk atau tulisan itu diatas baliho hanya mengatakan kalau mereka akan meringankan biaya sekolah, bukannya menggratiskan biaya sekolah. Meringankan biaya sekolah aja belum, mana mungkin langung mau gratis. Inikan argument yang sangat lucu, dan bagi kalangan banyak yang baca akan teratawa karena menutut mereka memalukan.

Itu dari penulisan itu ingin mengukapkan kepada public, agar orang miskin tidak dijadikan sebagai lahan untuk bisnis. Sedangkan mereka sendiri selalu terlantar dan terhina-hina dimana-manapun mereka berada. Semoga suara Pak Eko adalah suara rakyat miskin.

By: ronald kabak

Pendidikan di Kabupaten Yahukimo Wilayah (Tiga) Memprihatinkan


Pendidikan merupakan salah satu kunci penanggulangan kemiskinan. Baik dalam jangka menengah atau pun dalam jangka panjang. Namun, masih banyak masyarakat miskin yang memiliki askes terbatas dalam memperoleh pendidikan yang bermutu, dan yang lebih memprihatinkan mereka sama sekali tidak mendapatkan pendidikan.

Hal ini juga dapat disebabkan antara lain karena mahalnya biaya pendidikan, tidak adanya perhatian dari Pemerintah Pusat atau pun Pemerintah Daerah terhadap saudara-saudara kita yang tinggal di daerah Pedalaman Papua. Khususnya Kabupaten Yahukimo distrik Anggruk dan distrik Pasikni.

Apakah hal ini disebabkan karena sulitnya sarana transportasi yang menghubungkan daerah Kabupaten dengan daerah di distrik-distrik yang ada di wilayah Tiga Kabupaten Yahukimo tersebut? Ataukah memang tidak ada guru-guru yang mau ditempatkan di wilayah Anggruk atau pun daerah terpencil untuk mau mengajarkan masyarakat miskin agar mengenal ilmu pendidikan?

Atau juga tidak adanya perhatian Pemerintah Yahukimo terhadap tambahan tunjangan wilayah atau tambahan lainnya kepada guru-guru yang telah mengajar dan mengabdi di daerah Anggruk?

"Bagaimana para guru-guru dapat melakukan pelayanan pendidikan di wilayah angruk Kabupaten Yahukimo kalau kebutuhan hidup sehari-hari sudah susah dan tidak terpenuhi akibat mahalnya kebutuhan hidup di wilayah tersebut sehingga hal ini sangat berdampak terhadap segala akses".

Pernyataan tersebut dilontarkan Ibu Kesia Helembo. Anggota DPRD Kabupaten Yahukimo yang membidangi pendidikan setelah melakukan kunjungan ke mahasiswa Yahukimo asal wilayah tiga di Jakarta.

Dia menilai kemiskinan dan pengangguran di tengah masyarakat Yahukimo di Anggruk dan Pasikni tidak pernah dipermasalahkan. Seolah-olah masyarakat telah mendapatkan pelayanan pendidikan yang memadai. Tapi, kini realitasnya sungguh terbalik.

Saat ini mereka tidak mendapatkan akses pendidikan. Berbahasa Indonesia pun tidak mengerti. Apalagi mengenal dan tahu membaca dan berhitung. Hal ini pun mengakibatkan mundurnya dunia pendidikan di kabupaten tersebut. Memang angka kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten ini tak kalah membuat miris orang-orang yang peduli.

Mana penyebab dan mana akibat? Ibarat lingkaran setan keterpurukan ekonomi dan pendidikan memang sebuah tantangan besar yang saling mempengaruhi. Buruknya perangkat keras pendidikan (ruang belajar dan sekolah, buku, pustaka, dan laboratorium yang kurang), diperparah lagi oleh buruknya kualitas perangkat lunak (kurikulum compang-camping dan gonta-ganti, manajemen pendidikan sekolah yang belum profesional) serta masih kurangnya jumlah dan kualitas guru.

Keterpurukan ini berlangsung di tengah-tengah mengalirnya dana yang sangat besar di kabupaten tersebut. Dengan demikian dana besar tidak menjamin peningkatan mutu pendidikan Karena peningkatan mutu pendidikan hanya merupakan jargon semata bagi pemda dan elit pemerintahan yang sibuk ber-KKN ria.

Karena itu, tutur masyarakat seharusnya tidak perlu berharap banyak pada aparatur pemerintah untuk setia menjadi pelayan mereka. Sudah terlalu banyak bukti bahwa jajaran birokrasi hanya menggunakan masalah rakyat untuk kepentingannya. Bukan untuk mengatasi masalah rakyat itu sendiri.

Dan rakyat tidak perlu khawatir bahwa mereka akan menderita tanpa perhatian pemerintah. Toh, selama ini mereka sudah hidup termasuk hidup menderita. Tanpa pelayanan yang berarti dari pemerintah.

Pemerintah memang telah mengganggarkan dana pendidikan sebanyak 20 persen dari APBN. Tapi, ketika dunia pendidikan telah memasuki era neoliberal pendidikan dana sebanyak itu menurut sebagian kalangan masih terasa kurang. Kita memang patut sadar bahwa masih banyak sektor-sektor publik lain yang harus diperhatikan oleh Pemerintah ketika membuat kebijakan-kebijakan liberalisasi.

Meskipun demikian diakuinya kebijakan yang dapat mendorong majunya dunia pendidikan harus diperioritaskan oleh pemerintah. Khususnya pada persoalan dana, akibatnya, timbullah pendidikan yang mahal dan komersialisasi pendidikan di Negara ini.

Siapa yang bertanggung jawab? Alih-alih membicarakan persoalan pendidikan yang mahal maka siapa pun akan menyalahkan pemerintah di negeri ini. Oleh sebab itu untuk membebaskan masyarakat dari belenggu mahalnya pendidikan saat ini merupakan tanggung jawab pemerintah. Dalam konteks ini masyarakat patut berbangga. Karena pemerintah daerah tidak membebankan uang pendaftaran masuk ke sekolah negeri.

12 Sep 2010

MENGAPA SAYA MEMAKAI ISTILAH "Koteka atau humi"? Dalam Tulisan2 Saya?

FOTO MASYARAKAT ANGGRUK



Selamat membaca, semua anak Papua khususnya mahasiswa atau pelajar asal kabupaten yahukimo di tanah air!!


0. Pengantar

Sudah beberapa kali, kata "koteka" yang saya gunakan dalam tulisan-tulisan saya sudah menjadi seolah-olah kata "sandungan" bagi sebagian saudara2 Yahukimo atau asal distik Anggruk yang di tanah air.

Marilah saya menjelaskan mengapa istilah ini patut dan dianggap layak dipakai:

1. Fakta Sejarah Orang Anggruk pasikni kabupaten Yahukimo Papua

Bahwa semua manusia, termasuk semua orang Yahukimo, pada mulanya adalah telanjang.

Bahwa nenek-moyang orang Anggruk adalah pada mulanya tidak berpakaian dari bahan tali rotan dan koteka, seperti yang Anda dan saya kenakan hari ini.

Bahwa wujud "ketertinggalan" (sebenarnya saya tidak setuju koteka sebagai tanda ketertinggalan) di Papua pada khususnya di kabupaten yahukimo distrik anggruk yang sampai hari ini masih dapat Anda sendiri lihat dan tunjuk dengan jari di abad 21 ini adalah "koteka". Wujud keterbelakangan lain seperti cawat dan daun-daunan telah tiada karena perubahan peradaban. Hanya koteka masih bertahan hidup di abad ke 21 ini.

2. Koteka adalah Logo atau 'stereotype' orang Anggruk sekarang

Bahwa di mana saja di dunia ini, kalau seseorang melihat manusia pribumi berhiaskan bulu burung cendrawasi dan tali rotan, mereka dapat bertanya-tanya apakah dari Afrika atau Amerika Latin, tetapi begitu mereka melihat "koteka", TANPA ragu dan secara pasti, mereka akan bilang, "INI ORANG ANGGRUK/ PASIKNI!" Maka, koteka adalah "logo" atau "stereotype" orang Anggruk kabupaten yahukimo, yang membantu orang di dunia untuk membedakan orang Anggruk dengan orang pribumi lainnya di dunia ini.

Buktinya kita lihat hampir semua demo2 di luar negeri atas nama Papua Barat selalu menggunakan koteka dan sali, yaitu pakaian orang Anggruk yang ada sampai saat ini. Orang suku manapun, selalu mengenakan koteka, karena itulah logo orang Yahukimo saat ini.

Bahwa bendera Bintang Kejora menunjukkan kemegahan negara, Burung Mambruk Meyum simbol negara, tetapi nama ANGGRUK punya simbol, yaitu yang menunjukkan kepada manusia YAHUKIMO adalah "koteka".

Bahwa koteka itu bukan hanya miliki orang ANGGRUK atau HERIAPINI, tetapi semua orang YAHUKIMO

3. Koteka "dalam kacamata rohani" di anggruk kabupaten yahukimo

Sudah lama, kata "koteka" telah dipakai sinonim dengan "bodoh", "ketinggalan jaman", "jijik", "tidak bisa", yaitu untuk mengejek. Nama pakaian ini telah menjadi kata untuk menghina. Kitab Suci mengatakan bahwa mereka yang dipandang "hina" akan diangkat oleh Tuhan dan mereka yang dipandang terkebelakang akan menjadi terdahulu.

Dalam perjuangan ini, bangsa ANGGRUK PASIKNI dulu dianggap, "orang yang tak perlu diperhitungkan dalam politik dunia modern", kanibal, primitif, terbelakang, dll itu sedang bangkit kembali, menunjukkan kepada dunia, atas dasar kebenaran mutlak ilahi, kebenaran sejarah dan kebenaran fakta. Karena itu, tanda "koteka' adalah tanda yang patut dipakai di di kabupaten yahukimo.

4. Symbol Kepolosan dan Kesahajaan

Koteka melambangkan kepolisan jiwa dan hati orang Anggruk. Tidak ada yang tersembunyi di hati orang Yahukimo. Dalam kesederhanaan ada kebahagiaan dan kepuasan, yaitu hidup bersahaja. Itulah lambang kehidupan yang sederhana. Itulah cita-cita perjuangan masyarakat anggruk kabupaten yahukimo, yaitu hidup sebagaimana orang ANGGRUK mau, bukan hidup seperti orang asing mau.

Tetapi kalau sebagian besar masyarakat Anggruk Pasikni atau manusia Yahukimo merasa bahwa kata ini memecah-belah atau merugikan masyarakat, maka secara aklamasi dapat dihapus. Tetapi pertanggungjawaban harus dilakukan kepada para kepala suku yang telah menyetujui pemakaian kata itu dalam setiap tulisan saya.

Semoga berguna bagi kita orang yahukimo semua
Wa norry: (YALIMECK, ANGGRUK, PASIKNI NINAP)

5 Sep 2010



pasikni ahun

13 Mei 2010

Impian modal kesuksesan Generasi Muda Kabupaten Yahukimo



GENERASI MUDA KABUPATEN

YAHUKIMO



Suatu ketika ada seoang pejalan kaki yang bertanya kepada tiga orang tukang bangunan. Orang pertama ditanya, “ Apa yang sedang Bapak lakukan ?”, tanya pejalan kaki tersebut. “Saya sedang menata batu bata Mas!”, sahut orang pertama dengan nada biasa. Kemudian pejalan kaki mendatangi orang kedua dan bertanya, “Sedang melakukan apa Mas ? “Saya sedang membuat rumah”, jawab orang kedua dengan nada agak semangat. Pejalan kaki mendatangai orang ketiga seraya berkata, “Bapak sedang membuat apa ? tanya pejalan kaki dengan senyuman manis. “Saya sedang membangun sebuah rumah yang di sana nanti akan saya dan keluarga tempati, tampat beristirahat, tempat saling berbagai dengan keluarga kami sehingga kebahagiaan kami raih”, jawab orang ketiga dengan penuh semangat pula.

Tentu kisah diatas teman teman sudah pernah mendengar, entah dengan redaksi yang berbeda beda. Beberapa hal yang perlu kita garis bawahi terhadap penyataan ketiga orang di atas adalah tentang motivasi membangun sebuah rumah tetapi berbeda cara berpikir tentang rumah seperti apa yang akan dibangun. Yang membedakan pandangan ketiga orang tersebut adalah tentang sebuah impian. Orang petama tidak memiliki impian yang besar atau tidak terbesit dalam jawabannya sebuah impian yang besar, dia hanya sekedar menata batu bata tidak lebih. Orang kedua punya impian meski belum tergambar secara jelas tujuan membuat rumah tersebut. Orang ketiga membuat rumah sesuai dengan impiannya. Dia memiliki impian yang tergambar dengan jelas melalui tujuan membangun rumah tersebut.

Mahasiswa baru khususnya dan umumnya kepada mahasiswa lama yang sudah secara sadar menyebut dirinya sebagai mahasiswa tentu di dalam menjalani masa pekuliahan ini tidak terlepas dari sebuah impian. Namun seberapa besar impian itu tiap mahasiswa berbeda- beda. Ada yang kuat dana ada yang lemah. Seberapa kuat impian itu tergantung ada seberapa sadar ia memahami konsep diri mereka. Konsep diri yang jelek akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya.

Sebaliknya orang yang konsep dirinya baik akan selalu optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses, berani gagal, percaya diri, antusias, merasa diri berharga, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positif, dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal.

Impian berbeda dengan kebutuhan ataupun keinginan, keinginan dapat berdimensi jauh kedepan tetapi hanya bersifat sementara, tidak mendesak dan tidak mempunyai kekuatan emosional yang besar untuk mewujudkannya. Kebutuhan bersifat mendesak dan mempunyai kekuatan emosional yang besar untuk mewujudkannya, tetapi tidak berdimensi jauh ke depan, sehingga hasilnya pun tidak jauh, hanya mencover kebutuhan jangka pendek yang mendesak saja. Impian mempunyai dimensi jauh ke depan dan mempunyai kekuatan emosional yang besar untuk mewujudkannya. Impian besifat sangat emosional, impian yang kuat tumbuh dari benih cinta, baik cinta diri maupun orang lain. Kalau manusia mempunyai impian dan memiliki peluang / kendaraan yang memungkinkan untuk mewujudkannya akan timbul suatu komitmen. Komitmen adalah suatu antuiasme dan keteguhan hati terhadap sesuatu, semakin besar harapan untuk mencapai sesuatu itu semakin besar antusias yang akhirnya berkembang menjadi obsesi. Dengan bemodal impian yang jelas kita akan memperoleh energi yang besar dan tidak mudah surut pada saat jalan yang kita lalui menemui kesulitan.

Impian yang kuat akan memberikan energi positif ketika divisualisaikan dan dituliskan, serta kita baca berulang – ulang. Artinya apapun impian kita coba kita gambarkan, kita cari foto – foto yang cocok sesuai dengan impian kita, lalu tuliskan kapan impian kita itu kita capai. Intinya dalam menggambarkan dan menuliskan impian kita berawal dari keyakinan yang kuat dan dari cinta. Misal kita ingin IP semester depan 3, 81. ya coba tuliskan, serta tempelkan impian kita itu pada tempat yang sekiranya kita bisa membaca berulang ulang. Misal Saya lulus kuliah bulan november 2011, IPK 3,63, menjadi wisudawan terbaik di STIP-AN, atau misal bulan Januari 2012 saya sudah mempunyai lembaga pendidikan yang bergerak di bidang pemerintahan, mempunyai pendidik dari mahasiswa STIP-AN, mendapat dukungan dari pemerintah Kabupaten YAHUKIMO. Yang penting tuliskan dan gambarkan impian kita. Orang lain mau menertawakan impian kita, biarkanlah.

Kita sebagai mahasiswa, tentu harus secara sadar memamahi bahwa masa depan kita tergantung kita sendiri, bukan orang lain. Kitalah yang menentukan seberapa besar kesuksesan di masa depan. Kita juga membutuhkan suatu wadah yang mampu mengantarkan kita pada impian kita. Teman teman bisa memilih, wadah mana yag tepat untuk mengantarkan teman – teman pada impian teman – teman. Berpikir dan bergeraklah menjemput impian kita. Kini saatnya kita berusaha.semangat teman-teman! STIP-AN asal kabupaten yahukimo..

30 Apr 2010

Partnerschaftsarbeit Kirchenkreis Schwelm » Partnerschafts-arbeit






Pfr.ThomasBracht

Partnerschaft des Kirchenkreises Schwelm mit den Kirchenkreisen Baliem-Yalimo und Mamberamo-Apawer (West Papua - Indonesien)

Die Partnerschaft zwischen den beiden indonesischen und dem deutschen Kirchenkreis stellt genauso eine geistliche Gemeinschaft wie eine praktische Beziehung dar.

  • Sie findet ihren Ausdruck
    im Austausch von Informationen über die kirchliche und politische Situation sowie das Alltagsleben der jeweils anderen Gemeinden,
  • durch persönliche Kontakte - auch und gerade durch wechselseitige Besuche;
  • durch das miteinander und füreinander beten;
  • durch praktische Hilfe, soweit nötig und möglich.

Wir im Kirchenkreis Schwelm nutzen zwei Möglichkeiten konkret an der Verbesserung der Lebensumstände der Gemeindemitglieder in Westpapua beizutragen:

  • Finanziell: Über die Stiftung "Ausbildung für Papua" unterstützen wir jährlich 50 Studenten, Studentinnen, Schülern und Schülerinnen in ihrer Ausbildung.
  • Politisch: Wir beteiligen uns - wann immer sinnvoll und möglich - an Aktionen, die auf die Wahrung von Menschenrechten in Indonesien abzielen.


Zwei Institutionen im Kirchenkreis sind federführend an der Pflege und Umsetzung der Partnerschaft beteiligt:
Der "Ausschuss für Mission, Ökumene und Weltverantwortung" (MÖWE)

und die Stiftung Ausbildung für Papua.



Geschichte der Partnerschaft

1989 beschloss die Kreissynode des Kirchenkreises Schwelm die Partnerschaft mit der Evangelischen Kirche in West-Papua - GKI = Gereja Kristen Injili di Tanah Papua.

Damit wurden die beiden Kirchenkreise Mamberamo-Apawer und Balim-Yalimo zu besonderen Partnern des Kirchenkreises Schwelm.

Zweimal reiste bisher eine offizielle Delegation des Kirchenkreises Schwelm zu einem Besuch der Partnerkirchenkreise nach West-Papua, fünfmal waren Gruppen aus West-Papua in Schwelm.

Diese östlichste Provinz Indonesiens hieß bis 2002 Irian-Jaya und ist vielen noch unter diesem Namen bekannt.


Der Kirchenkreis Mamberamo-Apawer

Der Mamberamo und der Apawer sind zwei große Flüsse, die im Norden von West-Papua ins Meer münden. An den Ufern dieser Flüsse leben etwa 15.000 Menschen, etwa 3.000 gehören zur evangelischen Kirche (GKI). Sie verteilen sich auf 10 größere und eine Reihe kleinerer Gemeinden. Die größte Gemeinde ist das Zentrum Kasonaweja mit etwa 500 Gemeindegliedern und einem Flugplatz.

Das größte Problem für unsere Partner am Mamberamo und am Apawer sind die weiten Entfernungen. Bei jeder Aktivität, die über eine Ortsgemeinde hinaus geht, - ein Nähkurs für Frauen, eine Konferenz für Gemeindeleiter, der Besuch eines Pfarrers in den Außendörfern - stellt sich die Frage: Haben wir genug Geld für das Benzin, um die Wege mit dem Boot zurücklegen zu können? Das Kollektenaufkommen ist so gering, dass nicht einmal das Gehalt für die kirchlichen Mitarbeiter davon gezahlt werden kann.

Der Kirchenkreis Balim-Yalimo

Das Balim-Yalimo-Gebiet liegt im östlichen Hochland in der Umgebung der Bezirkshauptstadt Wamena und ist dicht bevölkert. Zum Kirchenkreis gehören etwa 30.000 Gemeindeglieder in ca. 120 Gemeinden. Die größte und finanzkräftigste Gemeinde ist die Gemeinde Bethlehem in Wamena. Im Yalimogebiet gehören acht kleine Flugplätze zu den Zentren der kirchlichen Arbeit.

Die Gemeinden im Kirchenkreis Balim-Yalimo sind aus der Missionsarbeit deutscher Missionare von der Rheinischen und später Vereinten Evangelischen Mission hervorgegangen. Maßgeblich haben die Pfarrer Siegfried Zöllner und Klaus Reuter aus Schwelm mit ihren Familien dort gewirkt. Sie haben die Kontakte nach West-Papua gelegt und die Aufnahme der Partnerschaft angeregt.


Geschichte West-Papuas

Neuguinea, die nach Grönland zweitgrößte Insel der Erde, wurde 1511 und 1526 von portugiesischen Seefahrern entdeckt. Neuguinea gehörte nicht zu den Gewürzinseln und blieb deshalb zunächst für europäische Handelsmächte uninteressant. Erst im 19. Jahrhundert beanspruchten die Niederlande die Westhälfte der Insel, Deutschland den Nordosten und England den Südosten. Die Grenze zwischen dem West- und dem Ostteil wurde durch den 141. Längengrad festgelegt. Als Indonesien 1945 von Holland unabhängig wurde, blieb West-Papua zunächst unter niederländischer Verwaltung. Die Niederlande wollten das Land in die Unabhängigkeit führen. Doch am 1.5.1963 musste Holland unter internationalem Druck das Gebiet an Indonesien übergeben. Ein Referendum unter UN-Aufsicht sollte der Bevölkerung 1969 die Möglichkeit geben, sich frei für oder gegen den Verbleib bei Indonesien zu entscheiden. Indonesien gelang es, eine freie und faire Volkabstimmung zu verhindern. Heute ist West-Papua eine indonesische Provinz, gegen den Willen der Papua, die weiterhin für ihre Unabhängigkeit von Indonesien eintreten.

Ausbeutung von Natur und Bodenschätzen

In West-Papua wird seit 1967 eine der größten Gold- und Kupferminen der Welt vom amerikanische Unternehmen Freeport betrieben. Weiterhin sind etwa 50 legale und zahllose illegale Holzunternehmen dabei, die Regenwälder zu vernichten. Die Bewohner wurden gezwungen, Land für Umsiedlungsprojekte und Ölplantagen abzutreten. An den wirtschaftlichen Erträgen all dieser Unternehmungen wurden sie nicht beteiligt. Vielmehr entwickelte sich bei den Papua das Gefühl, dass ihnen auch das Land als letzter Besitz abgenommen wird.

Menschenrechte

Die Maßnahmen der machthabenden Militärdiktaturen Sukarnos und Suhartos schürten in West-Papua die Unzufriedenheit und lösten immer wieder Proteste und Widerstand aus. Doch das Militär ging mit brutaler Gewalt gegen jede Art von Widerspruch vor: Dabei wurden führende Papua ermordet, Dörfer niedergebrannt, die Einwohner vertrieben oder getötet oder in die Gefängnisse eingeliefert. Seit Anfang der 90iger Jahre begannen die Kirchen deutlich zu protestieren. Sie veröffentlichten mehrere Dokumentationen über brutale Militäraktionen und ihre Folgen. Trotzdem sind bis heute Folter und Gewalt seitens der Machthaber an der Tagesordnung.


Ziele der Partnerschaft

Wir wollen die geschwisterliche Gemeinschaft mit Christen auf der anderen Seite unserer Erdkugel deutlich machen. Wir wollen zeigen, dass in Jesus Christus die Grenzen der Kultur, der Hautfarbe und der Sprache überwunden werden können. Wir wollen in der schwierigen Situation, in der sich die Christen in West-Papua befinden, solidarisch für sie eintreten. Wir wollen unsere Partner ideell und finanziell unterstützen und ihren helfen, den Weg in eine friedliche Völkergemeinschaft zu finden.

Unser Projekt

Der Kirchenkreis Schwelm unterstützt 60 junge Menschen aus dem Bergland und dem Mamberamogebiet, die in der Provinzhauptstadt studieren. Wir sind dankbar, dass immer wieder Menschen bei uns für dieses Projekt spenden. Wir suchen weitere Spender, die bereit sind, eine Studentin oder einen Studenten zu fördern und zu unterstützen. Mit 30,00 Euro monatlich wird ein Studienplatz gesichert und einem jungen Menschen aus Papua der Zugang zum Wissen unserer Zeit ermöglicht. Wir sehen darin einen wichtigen Beitrag, jungen Papuas die Chance zu geben, ihre Ideen zu verwirklichen und für die Ziele ihres Volkes friedlich einzutreten.


Unterstützung und Informationen

Spendenkonto:
Ev. Kirchenkreis Schwelm
Kontonummer 83
Stadtsparkasse Schwelm
BLZ 45451555
Zweck: Schülerhilfe West-Papua

Weitere Auskünfte zu West-Papua:
Pfr. Thomas Bracht,
Am Blumenhaus 16b

45549 Sprockhövel (Haßlinghausen)
Telefon: 02339-4418

E-Mail: bracht.soika(at)web.de

Pfr. i.R. Dr. Siegfried Zöllner

Feldstr. 51

58332 Schwelm
Telefon: 02336-81357

Welcome to Schwelm

by yumyum - last update: Apr 9, 2008

Old part of Schwelm
We came to Schwelm on passing through to somewhere else using an off the beaten path road from our starting destination.

When I saw the sight of the Altstadt Meile (first picture in travelogue) I urgently wished to stop and take a look even though the weather was showing its grey side.

Schwelm is the smallest city in Nordrhine-Westphalia and the first people came around the 9th century and founded the Fronhof.

There is a lot of info to be found in Wikipedia and on www.schwelm.de